Beberapa hari yang lalu ditemani istri, saya makan di Pizza Hut. Ya hari itu lidah saya lagi pengen spageti (bahasa sononya spaghetti). Setelah spagetinya terhidang dan saya cicipi, istri saya nanya “Enak mana ketimbang di paparons?” Hmmm… enak mana ya? Secara penyajian memang lebih menarik yang di pizza hut, namun di lidah saya spagetinya paparons lebih megang
Bagi saya yg di paparons aroma dan rasanya di lidah itu lebih ke-Indonesiaan.
Kemarin saya sempat ngobrol sama relasi dari Acer mengani produk IT khususnya komputer yang dipasarkan di Indonesia. Harus kita akui kalau selama ini kita sebagai Bangsa Indonesia, di sektor komputer, kita masih sebatas konsumen. Parahnya konsumenpun kita mengkomsumsi produk yang didesain untuk komunitas luar sana. Bukan saja masalah bahasa, namun hampir disemua bagian. Acer pernah merilis produk desktop yang bau2 Indonesia. Cuma sayang, hal itu hanya sebentar. Tadinya saya pikir produk itu akan sukses dan terus berkelanjutan.
Saya pikir kenapa ngga para vendor itu memperhatikan ‘kita’ Bangsa Indonesia tidak semata-mata sebagai konsumen ‘tukang pakai’ saja? Budaya kita jelas banyak sekali bedanya dengan budaya-budaya diluar sana. Sekali-sekali mbok ya budaya kita juga diterapkan di produk IT yang dipasarkan di Indonesia.
Beberapa hari yang lalu saya mengecek 4 buah Mini PC (produk Pavorit bagi saya karena hemat listrik dan ringkas). Saya memang sengaja request non Vista
bukan karena maniak open source atau tidak suka propietary, namun semata2 efesiensi. Kami sudah member MSDNAA dan juga punya stok distro Linux, jadi buat apa kami memboroskan uang Negara bayar lisensi Vista baru sementara kami sendiri sudah punya lisensi MSDN AA-nya. Namun Mini PC sudah terinstall Linux Linpus. Kenapa ngga di-pre-installed dengan Linux IGOS saja? Setidaknya disitulah Acer menyertakan ke-Indonesiaanya. Ya memang sih IGOS sendiri berbasis Linux yang saat ini sudah menjadi public culture. Ya namanya juga usaha, ngga ada salahnya mulai memasukkan Budaya Indonesia kedalam produk2 IT yg dipasarkan di Indonesia. Sebagai raja pasar komputer, sudah saatnya Acer lebih memperhatikan produk cita rasa Indonesia.
Bagaimana dengan brand komputer Indonesia? Ya bagi saya sih lebih baik isinya berbau Indonesia daripada merek-nya saja Indonesia, tapi sebenarnya cuma nempel merek saja. Banyak produk komputer yang merek-nya Indonesia, tapi kenyataanya cuma merek-nya saja, model tetap model luar. Parahnya banyak diantaranya malah kualitasnya ngga karuan. Hal ini membuat citra produk Indonesia malah semakin anjlok. Kadang kita juga takut, kalau IT yang berbau Indonesia ntar kesanya kurang modern. Ya maklum selama ini asumsinya budaya kita itu primitiv sih, ini salahnya industri pariwisata tuh yg cuma promoin tradisi lawas saja. seolah2 semakin lawas semakin menarik. Mbok yg dipromoin itu nilainya jangan umurnya.
Kembali ke makanan. Kadang kita dianggap kolot kalo ngga bisa menyantap masakan asing. Bagi saya ini bukan masalah kolot atau modern. Ndeso ato ngga, namun bagaimanapun juga kita Indonesia. Lidah katanya ngga bisa dibohongi. Bagaimanapun sambel terasi terasa lebih cocok dilidah kita ketimbang keju dan mentega. Saya merasa wajar2 saja spageti paparon lebih nyangkut di lidah karena lebih Indonesia. Ayam goreng Ninit atau Suharti lebih maknyus ketimbang yang dipatenkan KFC. Saya ngga merasa kurang modern, toh banyak yg ngaku sok modern dengan berdasi dan pakai jas lupa kalau berpakaian pakai jas dan dasi itu lebih kuno dibanding batik-batik kreasi sekarang. Ayo modern mana pakai batik atau jas+dasi?
Akankah ada laptop cita rasa Indonesia? Baik desain body, hingga ke kontennya. Hmmm vendor manakah yang akan merilis lebih dulu? Kita tunggu saja.