G.Mujiyatna

G.Mujiyatna

August 25, 2008

Bading Kayu ngga Hutan lagi!

Filed under: ICT - deMuji @ 4:07 am

Sabtu 23 Agustus kemarin sama omku nyetting akses Internet dengan GPRS-nya Mentari di rumah di Bading Kayu - Bali. Akhir tahun 2007 kemarin masih ngga bisa :D waktu itu sinyal GPRS ngga ada. Operator lain ngga nyoba sih, abis punyanya Mentari je :D (stt… keluarga besarku dominan pakai Mentari sejak jaman bahula - kudu jadi pelanggan setia nih).

Sehabis install driver n coba konek, dannnnn….. nyus..nyus… konek deh. Hmm… sekarang dah ngga dihutan lagi. Dulu setiap pulang kampung terasa di hutan belantara, jauh dari dunia Internet. Meski kadang2 kondisi seperti ini patut disyukuri juga, karena kita bisa lebih menimmati liburan, tapi ada kalanya donk kita butuh media komunikasi yang satu ini.

So terima kasih Indosat atas tersedianya layanan Internet di kampungku di Bali sana. Mudah2an layanan ini bisa memberi manfaat lebih buat kami. Yg jelas Tubagus punya kesempatan sekarang untuk menjelajahi gudangnya ilmu di perpustakaan Internet.

July 17, 2008

Kampus Biru

Filed under: ICT, Iseng - deMuji @ 11:26 am

Orang sering bilang kalo UGM tuh sering juga dikenal dengan sebutan ‘Kampus Biru’ a.k.a blue campus. Sekarang kampus biru jadi salah satu media jejaring sosial-nya UGM. Hari ini aku mengaktifkan akun-ku di http://kampusbiru.ugm.ac.id tepatnya di http://kampusbiru.ugm.ac.id/demuji plus sudah juga mencoba ngisi beberapa posting di blog-nya http://kampusbiru.ugm.ac.id/demuji/weblog/

Kebanyakan blog sebenarnya membingungkan juga, toh satu saja sudah jarang diupdate. Tapi aku usahakan mengisinya dengan isi yang sesuai (tentu saja sesuai dengan tempatnya).

Akankah kampusbiru bisa memberi wahana biru dalam dunia UGM? Ya mudah-mudahan saja.

May 15, 2008

Jalak Project

Filed under: ICT - deMuji @ 3:59 am

Logo JalakKesempatan mencoba langsung beberapa teknologi Internet secara live (di dunia Internet), bukanlah kesempatan yang mudah bagi sebagian besar masyarakat kita. Tentu saja bikin blog termasuk didalamnya, namun blog itu baru sebagian kecil, bahkan sangat kecil sekali. Banyak teknologi-teknologi lain yang mesti dicoba. mencoba teknologi yang lain itulah yang butuh kesempatan lebih. Mau mencoba mengelola DNS secara live dengan domain yang real? Kudu punya host accesable di Internet, kudu punya domain yang bisa dikelola, dan itu berarti “biaya“. Apalagi kalau pengen nyoba bongkar pasang konfigurasi DNS. Begitu juga dengan mail server, dan tentu saja beberapa teknologi yang lain.

Berawal dari kenyataan itulah, saya memutuskan membuat suatu proyek mini yang kami sebut ‘Jalak Project‘. Jalak project saya dedikasikan bagi mahasiswa ’saya’ khususnya untuk punya kesempatan lebih mencoba implementasi teknologi Internet. Memang mereka bisa saja mencobanya secara intranet, namun bisa merasakan langsung berkarya di Internet jelas beda. Mudah-mudahan Jalak bisa menjadi wahana belajar anak bangsa.

April 25, 2008

Dari Sambal Terasi hingga Komputer Cita Rasa Indonesia

Filed under: ICT, Iseng - deMuji @ 5:48 am

Beberapa hari yang lalu ditemani istri, saya makan di Pizza Hut. Ya hari itu lidah saya lagi pengen spageti (bahasa sononya spaghetti). Setelah spagetinya terhidang dan saya cicipi, istri saya nanya “Enak mana ketimbang di paparons?” Hmmm… enak mana ya? Secara penyajian memang lebih menarik yang di pizza hut, namun di lidah saya spagetinya paparons lebih megang :D Bagi saya yg di paparons aroma dan rasanya di lidah itu lebih ke-Indonesiaan.

Kemarin saya sempat ngobrol sama relasi dari Acer mengani produk IT khususnya komputer yang dipasarkan di Indonesia. Harus kita akui kalau selama ini kita sebagai Bangsa Indonesia, di sektor komputer, kita masih sebatas konsumen. Parahnya konsumenpun kita mengkomsumsi produk yang didesain untuk komunitas luar sana. Bukan saja masalah bahasa, namun hampir disemua bagian. Acer pernah merilis produk desktop yang bau2 Indonesia. Cuma sayang, hal itu hanya sebentar. Tadinya saya pikir produk itu akan sukses dan terus berkelanjutan.

Saya pikir kenapa ngga para vendor itu memperhatikan ‘kita’ Bangsa Indonesia tidak semata-mata sebagai konsumen ‘tukang pakai’ saja? Budaya kita jelas banyak sekali bedanya dengan budaya-budaya diluar sana. Sekali-sekali mbok ya budaya kita juga diterapkan di produk IT yang dipasarkan di Indonesia.

Beberapa hari yang lalu saya mengecek 4 buah Mini PC (produk Pavorit bagi saya karena hemat listrik dan ringkas). Saya memang sengaja request non Vista :D bukan karena maniak open source atau tidak suka propietary, namun semata2 efesiensi. Kami sudah member MSDNAA dan juga punya stok distro Linux, jadi buat apa kami memboroskan uang Negara bayar lisensi Vista baru sementara kami sendiri sudah punya lisensi MSDN AA-nya. Namun Mini PC sudah terinstall Linux Linpus. Kenapa ngga di-pre-installed dengan Linux IGOS saja? Setidaknya disitulah Acer menyertakan ke-Indonesiaanya. Ya memang sih IGOS sendiri berbasis Linux yang saat ini sudah menjadi public culture. Ya namanya juga usaha, ngga ada salahnya mulai memasukkan Budaya Indonesia kedalam produk2 IT yg dipasarkan di Indonesia. Sebagai raja pasar komputer, sudah saatnya Acer lebih memperhatikan produk cita rasa Indonesia.

Bagaimana dengan brand komputer Indonesia? Ya bagi saya sih lebih baik isinya berbau Indonesia daripada merek-nya saja Indonesia, tapi sebenarnya cuma nempel merek saja. Banyak produk komputer yang merek-nya Indonesia, tapi kenyataanya cuma merek-nya saja, model tetap model luar. Parahnya banyak diantaranya malah kualitasnya ngga karuan. Hal ini membuat citra produk Indonesia malah semakin anjlok. Kadang kita juga takut, kalau IT yang berbau Indonesia ntar kesanya kurang modern. Ya maklum selama ini asumsinya budaya kita itu primitiv sih, ini salahnya industri pariwisata tuh yg cuma promoin tradisi lawas saja. seolah2 semakin lawas semakin menarik. Mbok yg dipromoin itu nilainya jangan umurnya.

Kembali ke makanan. Kadang kita dianggap kolot kalo ngga bisa menyantap masakan asing. Bagi saya ini bukan masalah kolot atau modern. Ndeso ato ngga, namun bagaimanapun juga kita Indonesia. Lidah katanya ngga bisa dibohongi. Bagaimanapun sambel terasi terasa lebih cocok dilidah kita ketimbang keju dan mentega. Saya merasa wajar2 saja spageti paparon lebih nyangkut di lidah karena lebih Indonesia. Ayam goreng Ninit atau Suharti lebih maknyus ketimbang yang dipatenkan KFC. Saya ngga merasa kurang modern, toh banyak yg ngaku sok modern dengan berdasi dan pakai jas lupa kalau berpakaian pakai jas dan dasi itu lebih kuno dibanding batik-batik kreasi sekarang. Ayo modern mana pakai batik atau jas+dasi?

Akankah ada laptop cita rasa Indonesia? Baik desain body, hingga ke kontennya. Hmmm vendor manakah yang akan merilis lebih dulu? Kita tunggu saja.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here