Heart a.k.a Hati
Kenapa ‘heart’ yang terkait dengan perasaan kok Bahasa Indonesianya ‘hati’? Padahal simbolnya yang seperti daun keladi terbalik berwarna merah itu kadang dibilang lambang ‘jantung’. Dimanakah letak hati si heart itu? Benarkah kita sebagai manusia mempunyai sesuatu yang namanya ‘hati’ sebagai ‘heart’ itu?
Sering kita mendengar ungkapan ‘turuti kata hatimu’, yang sepertinya sebuah ungkapan yang sangat luar biasa. Atau ungkapan ‘hatiku ngga bisa dibohongi’ yang juga terkesan ngga bisa dibantah lagi. Sehebat itukah ‘hati’ itu sehingga seolah-olah yang lain menjadi tak ada artinya dihadapan ‘hati’ ini?
Sehebat apapun sebuah hal yang namanya ‘hati’ tetaplah dia harus menyadari posisinya. ‘Hati’ manusia sbagai hamba Tuhan yang Maha Esa, tidaklah serta-merta menjadi tolak ukur pembenaran sikap dan tingkah laku dan mementahkan ajaran Tuhan. Sehebat apapun ‘hatimu’ tidak lah bisa dijadikan legalitas atas pikiran, perkataan, dan perbuatan tak baik yang kamu lakukan. Janganlah jadikan ‘hati’ sebagai tameng untuk melakukan penghianatan. jangan jadikan ‘hati’ sebagai tameng perbuatan tak pantas.
Cerita di canda pinggala menuturkan diatas hati dan perasaan masih ada yang lebih tinggi yaitu kesetiaan, namun kesetiaan sendiri tetap harus tunduk pada hukum kebenaran Tuhan. katanya, tidak ada undang-undang yang lebih tinggi dari kesetiaan selain hukum Tuhan itu sendiri.
