G.Mujiyatna

G.Mujiyatna

April 25, 2008

Dari Sambal Terasi hingga Komputer Cita Rasa Indonesia

Filed under: ICT, Iseng - deMuji @ 5:48 am

Beberapa hari yang lalu ditemani istri, saya makan di Pizza Hut. Ya hari itu lidah saya lagi pengen spageti (bahasa sononya spaghetti). Setelah spagetinya terhidang dan saya cicipi, istri saya nanya “Enak mana ketimbang di paparons?” Hmmm… enak mana ya? Secara penyajian memang lebih menarik yang di pizza hut, namun di lidah saya spagetinya paparons lebih megang :D Bagi saya yg di paparons aroma dan rasanya di lidah itu lebih ke-Indonesiaan.

Kemarin saya sempat ngobrol sama relasi dari Acer mengani produk IT khususnya komputer yang dipasarkan di Indonesia. Harus kita akui kalau selama ini kita sebagai Bangsa Indonesia, di sektor komputer, kita masih sebatas konsumen. Parahnya konsumenpun kita mengkomsumsi produk yang didesain untuk komunitas luar sana. Bukan saja masalah bahasa, namun hampir disemua bagian. Acer pernah merilis produk desktop yang bau2 Indonesia. Cuma sayang, hal itu hanya sebentar. Tadinya saya pikir produk itu akan sukses dan terus berkelanjutan.

Saya pikir kenapa ngga para vendor itu memperhatikan ‘kita’ Bangsa Indonesia tidak semata-mata sebagai konsumen ‘tukang pakai’ saja? Budaya kita jelas banyak sekali bedanya dengan budaya-budaya diluar sana. Sekali-sekali mbok ya budaya kita juga diterapkan di produk IT yang dipasarkan di Indonesia.

Beberapa hari yang lalu saya mengecek 4 buah Mini PC (produk Pavorit bagi saya karena hemat listrik dan ringkas). Saya memang sengaja request non Vista :D bukan karena maniak open source atau tidak suka propietary, namun semata2 efesiensi. Kami sudah member MSDNAA dan juga punya stok distro Linux, jadi buat apa kami memboroskan uang Negara bayar lisensi Vista baru sementara kami sendiri sudah punya lisensi MSDN AA-nya. Namun Mini PC sudah terinstall Linux Linpus. Kenapa ngga di-pre-installed dengan Linux IGOS saja? Setidaknya disitulah Acer menyertakan ke-Indonesiaanya. Ya memang sih IGOS sendiri berbasis Linux yang saat ini sudah menjadi public culture. Ya namanya juga usaha, ngga ada salahnya mulai memasukkan Budaya Indonesia kedalam produk2 IT yg dipasarkan di Indonesia. Sebagai raja pasar komputer, sudah saatnya Acer lebih memperhatikan produk cita rasa Indonesia.

Bagaimana dengan brand komputer Indonesia? Ya bagi saya sih lebih baik isinya berbau Indonesia daripada merek-nya saja Indonesia, tapi sebenarnya cuma nempel merek saja. Banyak produk komputer yang merek-nya Indonesia, tapi kenyataanya cuma merek-nya saja, model tetap model luar. Parahnya banyak diantaranya malah kualitasnya ngga karuan. Hal ini membuat citra produk Indonesia malah semakin anjlok. Kadang kita juga takut, kalau IT yang berbau Indonesia ntar kesanya kurang modern. Ya maklum selama ini asumsinya budaya kita itu primitiv sih, ini salahnya industri pariwisata tuh yg cuma promoin tradisi lawas saja. seolah2 semakin lawas semakin menarik. Mbok yg dipromoin itu nilainya jangan umurnya.

Kembali ke makanan. Kadang kita dianggap kolot kalo ngga bisa menyantap masakan asing. Bagi saya ini bukan masalah kolot atau modern. Ndeso ato ngga, namun bagaimanapun juga kita Indonesia. Lidah katanya ngga bisa dibohongi. Bagaimanapun sambel terasi terasa lebih cocok dilidah kita ketimbang keju dan mentega. Saya merasa wajar2 saja spageti paparon lebih nyangkut di lidah karena lebih Indonesia. Ayam goreng Ninit atau Suharti lebih maknyus ketimbang yang dipatenkan KFC. Saya ngga merasa kurang modern, toh banyak yg ngaku sok modern dengan berdasi dan pakai jas lupa kalau berpakaian pakai jas dan dasi itu lebih kuno dibanding batik-batik kreasi sekarang. Ayo modern mana pakai batik atau jas+dasi?

Akankah ada laptop cita rasa Indonesia? Baik desain body, hingga ke kontennya. Hmmm vendor manakah yang akan merilis lebih dulu? Kita tunggu saja.

April 23, 2008

Heart a.k.a Hati

Filed under: Uncategorized, Iseng - deMuji @ 8:32 am

Kenapa ‘heart’ yang terkait dengan perasaan kok Bahasa Indonesianya ‘hati’? Padahal simbolnya yang seperti daun keladi terbalik berwarna merah itu kadang dibilang lambang ‘jantung’. Dimanakah letak hati si heart itu? Benarkah kita sebagai manusia mempunyai sesuatu yang namanya ‘hati’ sebagai ‘heart’ itu?

Sering kita mendengar ungkapan ‘turuti kata hatimu’, yang sepertinya sebuah ungkapan yang sangat luar biasa. Atau ungkapan ‘hatiku ngga bisa dibohongi’ yang juga terkesan ngga bisa dibantah lagi. Sehebat itukah ‘hati’ itu sehingga seolah-olah yang lain menjadi tak ada artinya dihadapan ‘hati’ ini?

Sehebat apapun sebuah hal yang namanya ‘hati’ tetaplah dia harus menyadari posisinya. ‘Hati’ manusia sbagai hamba Tuhan yang Maha Esa, tidaklah serta-merta menjadi tolak ukur pembenaran sikap dan tingkah laku dan mementahkan ajaran Tuhan. Sehebat apapun ‘hatimu’ tidak lah bisa dijadikan legalitas atas pikiran, perkataan, dan perbuatan tak baik yang kamu lakukan. Janganlah jadikan ‘hati’ sebagai tameng untuk melakukan penghianatan. jangan jadikan ‘hati’ sebagai tameng perbuatan tak pantas.

Cerita di canda pinggala menuturkan diatas hati dan perasaan masih ada yang lebih tinggi yaitu kesetiaan, namun kesetiaan sendiri tetap harus tunduk pada hukum kebenaran Tuhan. katanya, tidak ada undang-undang yang lebih tinggi dari kesetiaan selain hukum Tuhan itu sendiri.

ACM Elections

Filed under: ICT - deMuji @ 4:33 am

Semarak pemilu tak hanya dikalangan politikus. Barusan aku menerima surat pemberitahuan dan proposal masing-masing kandidat pengurus pusat ACM. Tentu saja pemilu-nya ACM berbeda dengan pemilu pilkada di Indonesia. Yang jelas pemilunya ngga ada kampanye pengerahan masa. Rasa-rasanya para kandidat juga ngga berkampanye, melainkan hanya menyampaikan pernyataan mengenai visi-misinya kemana ACM akan dibawa. Lagian para kandidat juga bukan politikus, tapi para profesional dibidang ICT.

Yang menarik dari pemilu-nya ACM adalah kandidat President satu putra satu putri, hmmm hebat kan. Yang putri seorang profesor dari Inggris dan kandidat putra dari USA. Distribusi kandidat pengurus memang didominasi USA, namun selain Inggris ada juga kandidat dari Canada, India, China dan Itali.

Pemungutan suaranya ‘Ballot’ juga ngga pakai sistem coblos, tapi lewat surat yang divalidasi dengan nomor anggota dan PIN pemilu, atau online yang juga divalidasi dengan nomor anggota dan PIN pemilu. Hmm… aku baiknya memilih online saja, cepat dan ngga perlu beli perangko :D

Hmm… milih siapa ya???? Ntar ajalah, baca-baca biografi dan visi-misi masing-masing kandidat dulu.

April 18, 2008

Nine and Twenty

Filed under: Uncategorized - deMuji @ 4:15 am

18 April 1979 tahun Masehi itu tepat 10593 hari yang lalu. Menurut perhitungan tahun Masehi Hari itu hari Rabu. Menurut perhitungan Tahun Masehi juga itu tepat 29 tahun yang lalu. Hmmm… tapi bagiku lebih suka melihat bahwa itu 10593 hari yang lalu. Yang jelas sudah 10593 hari aku merasakan secara langsung desiran angin dunia ini.

Angka 18 April lumayan nyentrik buatku. Tanggal ini diapit dua tanggal spesial 17 april dan 19 april. Ya 17 April kelahiran istriku, 19 April kelahiran sahabat karibku.

Bagi sebagian besar orang, hari dimana tanggal dan bulanya sama dengan tanggal dan bulan kita lahir dianggap sebagai hari yang spesial. bagiku sih sama saja. Ngga ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Bersyukur iya, tapi ngga sampe segitunyalah. Ya mungkin lebih tepat jadi hari mereview apa yang telah dikerjakan, namun ngga harus membuat rencana baru kedepan.

Yang jelas usia makin tua, kesempatan makin sedikit. Kesempatan apa? Ya kesempatan berkarya. Usia sudah dua-puluh-sembilan, mau apa lagi? Sudah bukan saatnya berleha-leha. Sebentar lagi anga “dua” bakal digusur. Sepuluh tahun yang lalu, aku suka puisinya “Housman”. Ya bagiku embel-embel satu dibelakang angka dua akan menjadi momen dimana aku sudah harus mulai belajar mengukir hidupku sendiri. Namun ukiran hidup kita ngga akan pernah selesai, meski angak dua sudah tergusur. semakin tinggi angka didepan, semakin banyak yang harus dikerjakan.

When I was one-and-twenty
by A. E. Housman

When I was one-and-twenty
I heard a wise man say,
‘Give crowns and pounds and guineas
But not your heart away;
Give pearls away and rubies
But keep your fancy free.’
But I was one-and-twenty,
No use to talk to me.

When I was one-and-twenty
I heard him say again,
‘The heart out of the bosom
Was never given in vain;
‘Tis paid with sighs a plenty
And sold for endless rue.’
And I am two-and-twenty,
And oh, ’tis true, ’tis true.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here