Dengkul ketemu Bibir
Kalau dengkul ketemu bibir apa yang akan terjadi?
Mungkinkah dengkul ketemu bibir? Kalau memang itu harus terjadi, maka terjadilah. Dengkul sudah identik dengan kenekatan ditengah ketidak berdayaan. Sering kita dengar jargon “modal dengkul”. Dengkul itu memang keras, dan memang harus begitu biar dia tahan benturan dengan kaki meja, kursi atapun menahan tekanan celana jeans anda disaat jongkok. Dengkul itu harus kuat, karena dia penopang dikala anda menekukan kaki, bahkan dia salah satu pegas pelontar dikala anda mau melompat ataupun meloncat.
Bibir, sosok eh masuknya organ, hmmm bukan juga ya? Ya pokoknya bibirlah. Sesuatu yang identik dengan kelembutan dan romantisme. Bibir yang kasar itu pamali bagi kamu hawa, kalau bibir pecah-pecah itu panas dalam. Kalau bibir item itu katanya suka merokok, la kalau bibir tebal itu Angelina Jolie. Bibir kadang identik dengan gosip, pantas saja orang-orang kadang suka bilang “buah bibir!” yang maksudnya jadi pergunjingan. Namun bibir itu juga unik, walaupun areanya lebih sempit dibanding dengkul tapi biaya pemeliharaanya kadang luar biasa boros. Lipstick-lah lipsglos-lah atau apa lagi (biarlah ini domain kaum hawa). Yang paling menarik bagi sebagian besar orang seputar bibir tentu saja ‘ciuman’ atawa kecupan. Bagi sebagian lagi bibir itu jadi bahan ejekan (kalau yang ini propertynya empat mata).
Keras, kasar, nekat, terbatas, kere dipertemukan dengan lembut, romantis, sensual dan gosip jadinya apa? “What ever will be, will be”. Que sera-sera…..
