G.Mujiyatna

G.Mujiyatna

February 19, 2008

Bola-Bola Nasi Goreng

Filed under: Iseng - deMuji @ 10:07 am

Nasi goreng merupakan salah satu masakan khas Indonesia. Banyak orang, terutama yang bisa masak, menganggap masak nasi goreng itu sesuatu hal yang sederhana. Benarkah demikian?

Mungkin…. ini baru mungkin, nasi goreng itu dianggap sederhana karena dilihat dari sisi bahan baku dan penyajianya terlihat sederhana. Ya pada dasarnya dibutuhkan nasi sama bumbu saja kan? Ya kalau ada tambahan bahan lain sih, itu menambah cita rasa dan bikin tambah greng. Namun apakah sesederhana itu masakan nasi goreng?

Saya sering melihat bagaimana terpesonanya anak-anak (bahkan bisa jadi dewasa juga) dengan masakan berbau ‘luar negeri” seperti “Ayam Goreng”. Ayam goreng ala Kentucky Fried Chicken (KFC) yang patenya Internasional itu, bagi saya tidaklah begitu enak. Apa enaknya ayam dikasi tepung bumbu terus digoreng? Isi dalamnya masih basah, jauh sekali dari rasa gurih. Namun hebatnya dia bisa menjadi makanan yang begitu istimewa dimata sebagian masyarakat kita. Keistimewaanya jauh diatas Nasi goreng, yang dilidah saya rasanya 25x lipat lebih nyami.

Jika nasi goreng itu masakan yang sederhana, kenapa ngga ada yang mau menganggkat nasi goreng sebagai sajian “fast food”? Hmm… mungkin karena masakan ini sudah begitu memasyarakat, jadi kalau dijadikan fast food terlalu boros. Hmm… ntar kalau dah didahului negara tetangga, baru deh kita berteriak2 protes kesana-kemari ngga tau arah. Yah selagi masih murah, ayo kita bangga pada masakan Indonesia.

ps: Bola-bola nasi goreng adalah kalimat yang dikutif dari salah satu Iklan di televisi.

February 12, 2008

Menjadi Pahlawan atau Pecundang?

Filed under: Iseng - deMuji @ 11:31 am

Akhir-akhir ini rame orang menggunjingkan pemberian Gelar Pahlawab buat Presiden Soeharto. Terlepas dari isu tersebut aku lebih suka melihat dibalik makna gelar Pahlawan.

Siapa sajakah yang bisa menjadi pahlawan? Anak-anak bilang Guru itu seorang pahlawan — yang biasanya ditambahi embel-embel “tanpa tanda jasa”. Akan lebih apdol kalau ngga perlu pakai embel-embel begitu, toh nyatanya diakui sebagai pahlawan atau ngga, mayoritas Guru tetap saja melakoni profesinya sebagai Guru yang benar-benar Guru (Patut digugu dan ditiru). Lalu apakah harus menjadi guru biar bisa dapat gelar pahlawan — tanpa harus berjuang mendapatkan pengakuan tanda jasa?

Jiwa Pahlawan sesungguhnya ada di setiap diri manusia “beradab” (sudah di quote, di bold di italic pula :D ). Apakah kita manusia beradab? Jika kita yakin jawabanya “Yes”, kita siap jadi pahlawan. Jika yakin kita ngga beradab, sudah barang tentu “Pecundang” akan menguntit kita. Jika ragu-ragu? Tenang, hari masih panjang. Besok masih ada sinar Matahari pagi yang segar dan cerah. Ya kesempatan masih banyak.

Pahlawan bukan dilihat dari apa yang telah dia berikan tapi apa yang telah dia korbankan. Penyuap tidak pantas disebut pahlawan, karena pemberianya justru bisa membuat kita sengsara. Penjilat tidak pantas disebut pahlawan karena pujianya bikin kita terlena. Pacar yang gombal tak pantas disebut pahlawan karena cintanya hanya bikin kita sengsara. Selingkuhan ngga pantas disebut pahlawan karena dia hanya bikin kita menjadi manusia berdosa, lupa anak istri.

Pahlawan adalah manusia yang berkorban kehilangan sesuatu tanpa harus menyakiti atau merugikan orang lain, justru orang lain bisa mengambil manfaat dari pengorbanan itu. Pahlawan perjuangan mengorbankan hidup, tangan, kaki dan kenyamanan. Kita? Apa yang telah kita korbankan? Ego?

Temanku yang dijuluki “Sebastian Haha” pernah bilang: “Biarlah kita makan hati, asal tidak ada orang lain yang sakit hati”. Dia ini pahlawan buatku. Aku ingin jadi pahlawan bagi diriku sendiri, walau bisa saja aku justru akan jadi pecundang. Tapi biarlah, saatnya berkorban, saatnya melepas ego, saatnya belajar Ilmu Iklas-nya Andre Stinky yang saban hari ngelenong di Trans TV.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here