Open Source vs Proprietary (2)
Kata siapa belajar Linux dan aplikasi-aplikasi open source-nya sulit? Kalau anda termasuk yang berpendapat seperti itu, sebaiknya jangan terburu-buru. Cobalah beri waktu buat anda sendiri untuk menyelami aplikasi open surce tersebut. Ya bersabarlah, karena ngga ada ilmu yang instan di muka bumi ini.
Awalnya saya sendiri kurang begitu yakin, maklum bukan saya sendiri yang mau belajar linux (walau saya sendiri sebenarnya masih belajar semua hal). Saya harus mengajari dua staff administrasi untuk terbiasa menggunakan Linux. Kenapa saya kurang yakin? Ya saya akui, sedikit banyak saya termakan asumsi orang kalau Linux itu sulit (meski saya lebih sering merasa ngga bisa berbuat apa-apa di Windows).
Sebagai pembuka mereka dikasi pembekalan Linux dan open office sebanyak 2x2jam (total 4 jam). Apa yang bisa didapat dari belajar 4 jam ini? Jangan kata Linux, Windows-pun akan lewat begitu saja kalau mulainya sama-sama dari nol. Nah dengan pembekalan 4 jam itu, saya ambil jalan pintas. Saya install linux di komputer kerja mereka, kemudian di sela-sela waktu luang mereka bermain-main di Linux. Ya yang simpel-simple saja, dari ber-gaim ria, browsing, dengerin MP3, sampai iseng-iseng mengerjakan dokumen-dokumen yang terkait dengan pekerjaan.
Memang sih, mereka tidak langsung bisa, ya samalah-lah pakai Ms Office juga ngga gampang kan? Buktinya saya format style saja ngga bisa di Word, sementara di OpenOffice Write begitu mudahnya buat saya (ini sih soal kebiasaan). Setiap pertanyaan atau masalah di Linux, saya usahakan solusinya secepat mungkin. Mereka butuh player MP3, langsung saya install yang paling mirip dengan winamp, apalagi kalau bukan XMMS. Bahkan ketika mereka merasa perlu cara menutup program/aplikasi scara paksa, turunlah jurus “kill”.
Meski sambil lalu, saya cukup puas, karena saat ini sedikit banyak mereka mulai terbiasa ber-Linux ria. Ini bukan soal free atau bayar lisensi, tapi setidaknya mereka siap dua sistem. Windows OK Linux juga OK, tinggal sekarang nunggu kebijakan kantor, jadi Goes to Open Source atau Goes to Proprietary. Bagi saya keduanya OK, asal sesuai prosedur. Linux? Asal SDM siap kenapa tidak. Windows? Asal kantor mau nanggung lisensinya. Adil kan?(demuji,2007)
