G.Mujiyatna

G.Mujiyatna

January 22, 2007

Open Source vs Proprietary (2)

Filed under: ICT - deMuji @ 6:59 am

Kata siapa belajar Linux dan aplikasi-aplikasi open source-nya sulit? Kalau anda termasuk yang berpendapat seperti itu, sebaiknya jangan terburu-buru. Cobalah beri waktu buat anda sendiri untuk menyelami aplikasi open surce tersebut. Ya bersabarlah, karena ngga ada ilmu yang instan di muka bumi ini.

Awalnya saya sendiri kurang begitu yakin, maklum bukan saya sendiri yang mau belajar linux (walau saya sendiri sebenarnya masih belajar semua hal). Saya harus mengajari dua staff administrasi untuk terbiasa menggunakan Linux. Kenapa saya kurang yakin? Ya saya akui, sedikit banyak saya termakan asumsi orang kalau Linux itu sulit (meski saya lebih sering merasa ngga bisa berbuat apa-apa di Windows).

Sebagai pembuka mereka dikasi pembekalan Linux dan open office sebanyak 2x2jam (total 4 jam). Apa yang bisa didapat dari belajar 4 jam ini? Jangan kata Linux, Windows-pun akan lewat begitu saja kalau mulainya sama-sama dari nol. Nah dengan pembekalan 4 jam itu, saya ambil jalan pintas. Saya install linux di komputer kerja mereka, kemudian di sela-sela waktu luang mereka bermain-main di Linux. Ya yang simpel-simple saja, dari ber-gaim ria, browsing, dengerin MP3, sampai iseng-iseng mengerjakan dokumen-dokumen yang terkait dengan pekerjaan.

Memang sih, mereka tidak langsung bisa, ya samalah-lah pakai Ms Office juga ngga gampang kan? Buktinya saya format style saja ngga bisa di Word, sementara di OpenOffice Write begitu mudahnya buat saya (ini sih soal kebiasaan). Setiap pertanyaan atau masalah di Linux, saya usahakan solusinya secepat mungkin. Mereka butuh player MP3, langsung saya install yang paling mirip dengan winamp, apalagi kalau bukan XMMS. Bahkan ketika mereka merasa perlu cara menutup program/aplikasi scara paksa, turunlah jurus “kill”.

Meski sambil lalu, saya cukup puas, karena saat ini sedikit banyak mereka mulai terbiasa ber-Linux ria. Ini bukan soal free atau bayar lisensi, tapi setidaknya mereka siap dua sistem. Windows OK Linux juga OK, tinggal sekarang nunggu kebijakan kantor, jadi Goes to Open Source atau Goes to Proprietary. Bagi saya keduanya OK, asal sesuai prosedur. Linux? Asal SDM siap kenapa tidak. Windows? Asal kantor mau nanggung lisensinya. Adil kan?(demuji,2007)

January 12, 2007

Open Source vs Propriteary (1)

Filed under: ICT - deMuji @ 11:31 am

Ada kesan sejauh ini kalau open source itu kalah di sisi interaksi (human-computer). Ada kesan juga kalau alasan utama mempertahankan proprietary system itu karena sudah terciptanya ketergantungan. Kesan-kesan ini seakan-akan menjadi alasan yang begitu ampuh setiap kali ada upaya Goes to Open Source.

Saya bukanlah orang yang fanatik dengan open source, bukan pula anti proprietary system. Selama ini saya pengguna keduanya. Memang pada awalnya saya lebih sering menggunakan OS Windows XP Home Edition, karena memang OS itu dah preinstall di laptop yang saya gunakan. Alasan saya simple, saya ngga mau boros, membuang apa yang sudah dibayar. Namun saya belum merasa harus tergantung dengan Windows XP ini. Segalanya saya serahkan pada detik-detik pertama saat laptop booting. Lebih tepatnya saya jarang men-shutdown laptop yang sapa pakai, selalu hibernate entah itu di Windows maupun Linux.

Segalanya terasa begitu berbeda, ketika partisi NTFS yang terinstall Windows XP mengalami crash dan ternyata “bad sector” (kata CHKDSK sih…), Windows XP tak bisa di boot, tapi dunia belum kiamat, masih ada Linux yang bertengger di /dev/hda5. Tak ada mimpi buruk bagi saya soal satu ini. Semua dokumen saya porting ke home direktori di Linux. Syukurlah saya pakai Thunderbird juga jadi ngga masalah file-file email saya yang dari 2 tahun lalu masih bisa kebaca. Saya termasuk boros dalam urusan space email. Selain spam ngga ada yang saya hapus, bahkan spam-pun ada yang saya simpan. Ya saya memang butuh email-email tersebut untuk mendukung penelitian saya dibidang email.

Sehari,dua hari berlinux ria, terasa biasa saja. Segala keperluan saya yang biasa saya kerjakan di windows dengan mudah saya akomodasikan di Linux. Mulai dari chat pakai gaim, toh di Windows juga saya pakai Gaim, hingga coding PHP pakai Zend Studio yang notabene memang biasanya saya kerjakan di linux. Dimata saya ngga ada bedanya pakai Linux atau Windows. Hanya saja kadang memang agak sulit ketika saya harus nguji aplikasi yang exe based.

Tak terasa sudah hampir satu bulan saya selalu ber-Linux ria. Kadang ada niat memperbaiki/restore Windows-nya, tapi sampai saat ini belum kunjung punya mood melakukan semua itu. Ya mungkin karena belum ada sesuatu yang mendesak yang mengharuskan saya menggunakan Windows. Kadang kangen juga sih sama iTunes atau MindManager (biar ngga rugi beli lisensinya), tapi karena partisi NTFS-nya masih masalah, saya jadi ngga betah berlama-lama di Windows.

Akhir kata, rasanya tak begitu signifikan ada perbedaan suasana antara Linux dan Windows. Saya pengguna keduanya, dan sampai saat ini tak ada sesuatu yang membuat saya mengakui ketergantungan dengan salah satunya. Hanya saja bagi saya keduanya sama-sama mempunyai kesulitan di sisi interaksi. Tak ada kesulitan di Windows yang lebih mudah dari Linux.(muji,2007)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here